LGBT DI ANTARA HAM vs HAMBa

puluhan-massa-dari-dewan-da-wah-islamiyah-indonesia-provinsi-jabar-_160211150216-950

LGBT merupakan fenomena yang nyata ada dalam lingkungan masyarat, baik ia sebagai individu, anggota dari keluarga, bagian masyarakat, dan sekaligus sebagai warga negara yang melekat dalam dirinya antara kewajiban dan hak. Setiap individu terjebak pada penuntutan hak, atas pelindungan diri dari klausal sila kedua dalam pancasila yakni “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Dua konsep yang melekat dalam sila tersebut yang berkesinambungan. Pertama, kemanusiaan yang adil, yang memiliki makna negara dan perilaku warga negara menitik beratkan pada kebijakan dan perilaku yang adil tidak membeda-bedakan. Kedua, kemanusiaan yang beradab. Memiliki makna bahwa membangun perilaku sosial yang ada dalam ruang lingkup Indonesia harus memiliki derajat peradaban yang tinggi. LGBT memang memiliki hak untuk dilindungi oleh negara sebagai bentuk tanggung jawab dari negara itu sendiri. Namun, terdapat pertanyaan yang mendasar mengenai peradaban apa yang akan dibangun dalam melindungi LGBT?. Maka hal tersebut akan terjawab jika menafsirkan pancasila disandingkan dengan sila yang lainnya.

Mengingatkan kembali atas prinsip dasar dalam memaknai pancasila, yakni setiap sila dalam pancasila memiliki tugas untuk memaknai dan dimaknai atas sila yang lainnya. Sehingga, tidak bisa dipisahkan, atau hanya mengambil sila ke dua saja dalam melindungi LGBT. LGBT harus dikupas secara keseluruhan dari semua sila terutama sila pertama.

Kenapa terdapat penekanan pada sila pertama? Hal ini didasarkan atas tata letak sila pertama, pada posisi di tengah-tengah dalam lambang negara garuda pancasila. Letak sila pertama terakait erat untuk menjiwai dan dijiwai bagi sila yang lainnya . Beda halnya, jika posisi lambang bintang yang mencerminkan sila pertama, berbeda halnya jika lambang bintang diletakkan pada posisi lambang rantai (sila kedua). Tafsir ideology akan menjadi berbeda, dan tidak terlalu kuat nilai ketuhanan mempengaruhi sila kemenausiaan.

Nilai ketuhanan tidak hanya dari sudut pandang letak sila pertama saja, melainkan juga diperkuat jika menarik garis dari letak setiap lambang yang mencerminkan sila kesatu, kedua, ketiga, keempat dan kelima. Hasil dari garis tersebut akan membentuk arah garis kebalikan dari arah jarum jam. Hal itu bukanlah suatu kebetulan, akan tetapi Sulatan Hamid Al-Kadri sang perancang lambang negara meletakkan lambang dari setiap sila, terilhami oleh proses tawaf  ketika proses beribadah haji dan umrah.

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka kemanusiaan yang beradab harus berdasarkan konsepsi peradaban yang ada pada setiap ajaran agama, yang diakui di Indonesia. Tidak semata-mata hanya berbicara Hak Asasi Manusia (HAM) melainkan Hak Asasi Manusia Beragama (HAMBa).  Oleh karena itu, bagi orang yang memiliki ganguan seks dan psikologis atas kecenderugan LGBT harus memiliki beberapa pendekatan. Pertama, pengetahuan akan agama harus diperkuat. Sehingga lebih memaknai dan menjiwai agama tidak sekedar pengetahuan. Kedua, harus ada pelindungan dan pelayana dari kementrian sosial dalam melakukan terapi psikologis klinis. Ketiga, adanya intervensi bagi penderita LGBT dari lingkungan keluarga, bermain, pekerjaan, dan negara untuk mengembalikan pada fitrahnya sebagai laki-laki dan perempuan yang memiliki kewajiban dan hak sebagai warga Negara.

33 Misunderstood Words & Phrases

33-commonly-misunderstood-words-and-phrases-infographic

Sumber: http://www.grammarcheck.net/commonly-misunderstood-words-phrases/