Etno-Sosial: Makan Bersama Diatas Daun Pisang

Kalau ditilik cara makan orang sunda memang sangat beragam. Kali ini sedikit mengupas bagaimana orang sunda melakukan tradisi makan bersama. Daun pisang banyak digunakan untuk membungkus makanan, seperti halnya dalam membuat lontong dan membuat pepes ikan atau pun ayam. Beda halnya dengan makan diatas daun pisang. Daun pisan secara utuh diambil dari pohon pisang itu sendiri, tanpa proses dileumpeuh (dilenturkan dengan menggunakan api) hanya butuh dibersihkan dengan menggunakan lap tangan. Posisi batang daun berada diatas, kemudian nasi di simpan secara melintang panjang, begitu juga dengan lauk pauknya. Setelah selesai ditata dengan rapih, tibalah seseorang untuk memberikan sedikit sambutan dan doa sebelum memulai makan bersama beralaskan daun pisang. Entah kapan peristiwa ini ada di lingkungan masyarakat sunda, umumnya di Jawa Barat. Hal ihwal yang bisa dipelajari dari peristiwa ini memiliki banyak kandungan nilai egalitarian di antara orang-orang yang terlibat kegiatan tersebut.

Daun yang memanjang dan utuh bisa memiliki arti semua berada dalam satu tempat yang sama tanpa dibeda-bedakan. Duduk bersama diatas lantai, dapat melunturkan ego sosial yang melekat pada masing-masing status sosial yang melekat pada diri masing-masing. Jenis makanan dan nasi yang dibagi-bagi satu sama lain, merupakan sikap toleran kepada orang lain dan berbagi sesuai dengan kebutuhan tanpa harus semua memiliki porsi yang sama.

Laki-laki berduduk dengan cara bersila, sementara perempuan duduk dengan cara emok keduanya merupakan salah satu cara duduk orang sunda. Menyuap makanan dengan menggunakan tangan sebelah kanan. Begitupun juga ketika meminum air. Tempat air minum semuanya dalam bentuk yang sama, karena pada hakekatnya orang sunda tidak memiliki gelas khusus untuk minuman tertentu.

Pergeseran kebiasaan orang sunda pun mulai nampak. Manakala memasak dengan menggunakan kompor gas tidak lagi menggunakan tungku api. Karena kompor gas sudah dirasakan cukup praktis dalam membuat api, beda halnya dengan menggunakan tungku api, memerlukan waktu cukup lama dan kayu bakar yang tidak sedikit untuk memasak makanan yang banyak. Berikutnya ialah minuman yang berada pada plastik kemasan, sementara bahwa jaman dahulu orang sunda meminum air menggunakan kendi sebagai tempat airnya dan gelas berbahan kayu.

Bahan makanan yang masih ada, tanpa mengalami perubahan yaitu jengkol dan sambal terasi. Sementara ikan sudah berubah dari ikan yang diambil dari empang sendiri atau ikan yang diternak disawah menjadi ikan yang sudah tersedia dipasar dan dengan cara pembesaran ikan menggunakan pelet. Berikunya ialah ayam yang dihidangkan tidak jarang menggunakan ayam negeri bukan ayam kampung. Karena harga ayam kampung memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan harrga ayam negeri. Begitu juga beras, beras yang digunakan sudah mulai tercampur antara beras hasil tanam sendiri atau beras import dari negara lain. Bisa juga ditambahkan ikan asin sebagai penyedap rasa makanan, walau ikan asin kurang memiliki kandungan gizi yang baik.

Nilai etno sosial yang diwariskan oleh orang tua pada masa dahulu tersebut, memiliki kandungan yang luar biasa. Sehingga makan diatas daun pisang bisa dijadikan sebagai media untuk meningkatkan rasa toleransi, sikap empati, simpati, adil, kebersamaan, kekeluargaan, menghargai dan melestarikan warisan budaya sunda itu sendiri yang berada di tengah-tengah masyarakat masyarakat. Sehingga kegiatan yang sederhana ini dapat dengan efektif mengurangi sikap anti-sosial, dampak negatif dari kemanjuan teknologi yang lebih asyik dengan gadgetnya sendiri walau pun sendang berada dalam kumpulan keluarga, teman, atau masyarakat.

Pragmatic Political Practice or National Political Identity

In the article, with the title “Social, Economic and Political Studies of the Middle East and Asia”, told about political condition in Indonesia base on political dynamic in term of general election. As a usual, general election in one of tradition when on country would become democratize country. In fact, they are have several problematic either elite political behavior or society. They have many reasons about that condition, such as: dominance of oligarchic elites, patronage politics, predatory elites, money politic, and muscle power, (Social, Economic and Political Studies of the Middle East and Asia 2017). That condition can eliminate of national political identities base on the five principle of Pancasila.

Dominance of oligarchic elites, when the power has become in elite politic after election. It is opposite condition when in process of election then self. The political policy best on what elite want. While as long as I know the definition of republic is rest is mean interest and public is mean people. So when someone has become a leader should listen what the people want.  According to Plato, in The Republic, describes the contrast between the ideal and inferior states in terms of an imagined ‘decay’ or ‘destruction’, using the word pthora (546a), the Greek term later regularly Latinised as corruptio. The ideal state undergoes a number of stages of such decay, through timocracy, oligarchy and democracy, culminating in tyranny, which is the worst regime of all, (Gmbh 2010). Abuse of power is very opten when some people doesn’t have constitutional control from law.

Money politic in D-day of general election mostly haven. That is the main couse of pure score from international for transparency in Indonesia. The persistence of corruption is also reflected on the views of Indonesians’ citizens on corruption. According to the Global Corruption Barometer (Transparency International, 2011), 43% of the households surveyed believe that corruption has increased in the three years preceding the survey. The view on the effectiveness of the government’s efforts to fight corruption is divided. 33% assessed it as effective and 35% as ineffective (Martini 2012). Two concepts in the political campaign when the political elite using the money. Fist, cost politic, the political candidate sped the money to: rent the cars, buy some political images, transportation of political team. This condition I normal and related with political norms. Second, money politic is the political candidate buy the people who chosen that candidate. That’s the main of cause of corruption in political elite in Indonesia.

To sum up, Indonesia already have political principle is the leader value in political system in Indonesia. That the basic principles is need to implementation is several dimensions, they are: in basic constitution, political behavior either elite or society, good implementation of national constitution, high political education. For that reasons hopefully can reduce political deviation in Indonesia.

 

BILBIOGRAFI

Garrido, Luis. 2013. “Elites, Political Elites and Social Change in Modern Societies.” Revista de Sociología 28: 31–49.

Gmbh, Toyota Motorsport. 2010. Expanding the Focus.

Martini, Maira. 2012. “Causes of Corruption in Indonesia.” U4 Expert Answers, no. August 2012. http://www.u4.no/publications/causes-of-corruption-in-indonesia/downloadasset/2890.

Social , Economic and Political Studies of the Middle East and Asia. 2017. Citizenship and Democratization in Southeast Asia.