Egoisme Jari Tangan

Berlajar toleransi dari jari tangan cukuplah sederhana, dan dapat kita ingat kapan pun dan dimana pun. Jari tangan yang kita miliki bisa memiliki peran yang sangat penting, atau malah sebaliknya menjadi tidak berperan sama sekali. Ilustrasi yang bisa kita pahami kurang lebih seperti berikut ini:

Jari Jempol : Berkata pada empat jari yang lain, hai aku jari jempol walaupun aku tidak tinggi tapi aku adalah jari yang paling besar ukurannya dan aku lah yang paling hebat diantara kalian.

Jari Telunjuk: Tidak Jempol, aku adalah jari yang paling berguna bagi Tuan Ku. Karena aku selalu digunakan untuk menunjuk setiap benda yang disukai oleh Tuan Ku.

Jari Tengah: Hai Telunjuk dan Jempol. Kalian boleh membanggakan diri walau hanya dalam dunia intuisi, tapi dalam kenyataannya aku lah yang paling tinggi diantara kalian dan tidak terbantahkah keadaan Ku.

Jari Manis: Boleh lah kalian membanggakan diri sendiri. Tapi aku lah tempat dimana disematkannya cincin tanda kasih sayang Tuan Ku kepada pasangannya. Jadi aku lah yang paling bermakna bagi Tuan Ku dibandingkan kalian.

Jari Kelingking: Apalah arti kebanggan itu semua tanpa tali persaudaraan. Tubuh Ku memang kecil, tapi aku yang membuat tuanku bisa menolong dan besahabat dengan orang lain, tanpa harus menyombongkan diri.

Sepenggal kisah kecil itu, dapat kita refleksikan dalam kehidupan sehari-hari, dimana orang senang membanggakan diri sendiri dan menjatuhkan orang lain dengan cara mengkritik.  Kemudian menjadi terpecah-belah, dendam, iri, temperamen. Sehingga makna Bhineka Tunggal Ika hanya dijadikan sebagai simbol dan miskin implementasi. Belajarlah dari apa yang dikatakan Kelingking untuk berteman dan berbagai sehingga terwujud harmoni sosial. Cerita ini ditujukan bagi telinga yang paling dekat dengan penulis yaitu telinga penulis sendiri.

Sumber gambar: pipa-biru.blogspot.com (101114)