Program Short Course Social Humaniora

Amanat yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 menyatakan bahwa isu strategis pembangunan Iptek 2015-2019 adalah peningkatan kapasitas Iptek dalam hal (1) kemampuan memberikan sumbangan nyata bagi daya saing sektor industri, (2) keberlanjutan dan pemanfaatan sumber daya alam, dan (3) penyiapan masyarakat Indonesia menyongsong kehidupan yang maju dan modern, serta ketersediaan faktor-faktor yang diperlukan, seperti sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kelembagaan Iptek, jaringan, dan pembiayaan. Selanjutnya disebutkan bahwa dalam rangka mengemban amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 dan Agenda Riset Nasional 2016-2019, maka penyelenggaraan riset difokuskan pada bidang-bidang (1) pangan dan pertanian, (2) energi, energi baru dan terbarukan, (3) kesehatan dan obat, (4).

Persyaratan Umum

  1. Dosen yang memiliki NIDN atau NIDK dari perguruan tinggi di bawah Kemristekdikti;
  2. Memiliki Jabatan Akademik Asisten Ahli, Lektor, atau Lektor Kepala;
  3. Mempunyai bukti kemampuan berbahasa Inggris (skor TOEFL >475 atau IELTS >5,0 yang masih berlaku) atau bahasa asing lainnya yang dipersyaratkan;
  4. Berbadan sehat dibuktikan dengan surat keterangan dokter Rumah Sakit;
  5. Mengisi borang aplikasi pelatihan pada form link: http://bit.ly/form-short-course-ln
  6. Surat ijin resmi dari pimpinan perguruan tinggi;

Pembiayaan dan Jangka Waktu

  1. Biaya yang ditanggung oleh Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti meliputi:
  2. Biaya hidup (akomodasi, konsumsi, dan transpor lokal) selama program short course di luar negeri;
  3. Biaya asuransi selama short course di luar negeri;
  4. Biaya penerbangan (kelas ekonomi) PP, dari daerah asal perguruan tinggi ke Jakarta (kegiatan pembekalan) dan ke luar negeri;
  5. Biaya pembuatan visa.
  6. Biaya yang ditanggung oleh perguruan tinggi asal adalah biaya perjalanan dan akomodasi pada saat wawancara
  7. Jangka waktu short course adalah 3 – 12 minggu.

Kewajiban Peserta

  1.  Peserta wajib memenuhi semua persyaratan administratif yang dikeluarkan oleh Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti;
  2. Peserta wajib mentaati peraturan administratif dan akademik yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi tempat penyelenggaraan Short Course;
  3. Peserta wajib memberikan laporan hasil Short Course kepada Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti;
  4. Peserta harus kembali ke institusi asalnya.

Proses Seleksi

  1.  Direktorat Karier dan Kompetensi SDM, Ditjen Sumber Daya Iptek dan Pendidikan Tinggi akan mengumumkan program Short Course melalui laman : http://sumberdaya.ristekdikti.go.id;
  2. Calon peserta mengajukan surat permohonan untuk mengikuti short course luar negeri yang dilengkapi surat ijin pimpinan perguruan tinggi ke Direktorat Karier dan SDM, Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, disertai form short course yang telah diisi dan lampirannya;
  3. Calon peserta melengkapi semua persyaratan yang ditetapkan dalam persyaratan umum dan persyaratan khusus masing-masing bidang;
  4. Direktorat Karier dan Kompetensi SDM, Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti akan menyeleksi berkas yang masuk untuk menentukan dan mengumumkan peserta Short Course yang memenuhi persyaratan akademik dan administrasi;
  5. Calon peserta yang memenuhi persyaratan, akan diundang untuk mengikuti seleksi wawancara;
  6. Direktorat Karier dan Kompetensi SDM, Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti akan mengumumkan peserta program Short Course Luar Negeri melalui laman: http://sumberdaya.ristekdikti.go.id;

Syarat dan Kriteria Khusus Peserta:

Telah memiliki derajat akademik paling rendah S2 di bidang ilmu sosial humaniora, termasuk kependidikan sosial humaniora.

  1. Memiliki paling sedikit 1 karya ilmiah dalam bidang ilmu sosial/humaniora yang ditulis dalam bahasa Inggris yang telah diterbitkan atau dipresentasikan pada seminar nasional/internasional.
  2. Diutamakan calon yang sedang atau akan melakukan penelitian yang berkaitan dengan globalisasi dan/atau citizenship.
  3. Menyerahkan proposal penelitian dan rencana kegiatanselama pelatihan yang ditulis dalam bahasa Inggris.

Tempat dan Patner Luar Negeri:

  1. Belanda
  2. Department of History Faculty of Humanities Leiden University; Department of Anthropology Faculty of Social Sciences University of Leiden; Department of Arts and Culture, History and Antiquity Faculty of Humanities VU University Amsterdam; dan Royal Netherland Institute of Southeast Asian and Carribean Studies-KITLV Leiden

Waktu Penyelenggaraan:

2- 4 Minggu, antara Oktober-November 2017

 Jumlah Peserta:

10 – 15 orang

 Kurikulum dan Pokok Bahasan:

  1.  Latest development on research issues, theory and methodology in social sciences and humanities
  2. Critical theory and methodology
  3.  Global interaction in historical context
  4.  Globalization and citizenship
  5.  Gender, citizenshipand democratizing society
  6.  Herit
  7. Ages, identity and citizenship
  8. How to write high quality research proposal and publication

 Kegiatan:

  1. Kelas teori
  2. Diskusi dan kerja kelompok
  3. Kajian perpustakaan
  4. Konsultasi dengan mentor
  5. Penulisan mandiri
  6. Presentasi mandiri
  7. Menghadiri berbagai forum ilmiah yang relevan

Luaran:

Memiliki usulan penelitian berbahasa Inggris yang dapat digunakan untuk diajukan kepada calon sponsor secara kompetitif dan/atau untuk studi lanjut;

  1. Memiliki draf makalah yang akan dipresentasikan pada seminar internasional atau artikel yang akan dipublikasikan pada jurnal internasional; dan/atau
  2. Memiliki garis besar makalah untuk dipresentasikan pada seminar internasional,atau garis besar artikel berbahasa Inggris yang dapat dikembangkan menjadi tulisan utuh untuk publikasi.

Jadwal Seleksi Short Course

No Kegiatan Waktu
1. Pengumuman Minggu ke-3 Mei
2. Batas akhir penerimaan berkas Minggu ke-2 Juni
3. Seleksi berkas Minggu ke-3 Juni
4. Seleksi wawancara Minggu ke-3 Juni
5. Pengumuman kelulusan Minggu ke-3 Juni
6. Pengurusan dokumen keberangkatan Juni – Juli
7. Pembekalan peserta dan penandatanganan kontrak Juli – November
8. Pelaksanaan Short Course Luar Negeri Juli – November
9. Monev Short Course Luar Negeri Juli – November

Sumber: Pedoman Short Course LN Ristekdikti (2017)

LGBT DI ANTARA HAM vs HAMBa

LGBT merupakan fenomena yang nyata ada dalam lingkungan masyarat, baik ia sebagai individu, anggota dari keluarga, bagian masyarakat, dan sekaligus sebagai warga negara yang melekat dalam dirinya antara kewajiban dan hak. Setiap individu terjebak pada penuntutan hak, atas pelindungan diri dari klausal sila kedua dalam pancasila yakni “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Dua konsep yang melekat dalam sila tersebut yang berkesinambungan. Pertama, kemanusiaan yang adil, yang memiliki makna negara dan perilaku warga negara menitik beratkan pada kebijakan dan perilaku yang adil tidak membeda-bedakan. Kedua, kemanusiaan yang beradab. Memiliki makna bahwa membangun perilaku sosial yang ada dalam ruang lingkup Indonesia harus memiliki derajat peradaban yang tinggi. LGBT memang memiliki hak untuk dilindungi oleh negara sebagai bentuk tanggung jawab dari negara itu sendiri. Namun, terdapat pertanyaan yang mendasar mengenai peradaban apa yang akan dibangun dalam melindungi LGBT?. Maka hal tersebut akan terjawab jika menafsirkan pancasila disandingkan dengan sila yang lainnya.

Mengingatkan kembali atas prinsip dasar dalam memaknai pancasila, yakni setiap sila dalam pancasila memiliki tugas untuk memaknai dan dimaknai atas sila yang lainnya. Sehingga, tidak bisa dipisahkan, atau hanya mengambil sila ke dua saja dalam melindungi LGBT. LGBT harus dikupas secara keseluruhan dari semua sila terutama sila pertama.

Kenapa terdapat penekanan pada sila pertama? Hal ini didasarkan atas tata letak sila pertama, pada posisi di tengah-tengah dalam lambang negara garuda pancasila. Letak sila pertama terakait erat untuk menjiwai dan dijiwai bagi sila yang lainnya . Beda halnya, jika posisi lambang bintang yang mencerminkan sila pertama, berbeda halnya jika lambang bintang diletakkan pada posisi lambang rantai (sila kedua). Tafsir ideology akan menjadi berbeda, dan tidak terlalu kuat nilai ketuhanan mempengaruhi sila kemenausiaan.

Nilai ketuhanan tidak hanya dari sudut pandang letak sila pertama saja, melainkan juga diperkuat jika menarik garis dari letak setiap lambang yang mencerminkan sila kesatu, kedua, ketiga, keempat dan kelima. Hasil dari garis tersebut akan membentuk arah garis kebalikan dari arah jarum jam. Hal itu bukanlah suatu kebetulan, akan tetapi Sulatan Hamid Al-Kadri sang perancang lambang negara meletakkan lambang dari setiap sila, terilhami oleh proses tawaf  ketika proses beribadah haji dan umrah.

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka kemanusiaan yang beradab harus berdasarkan konsepsi peradaban yang ada pada setiap ajaran agama, yang diakui di Indonesia. Tidak semata-mata hanya berbicara Hak Asasi Manusia (HAM) melainkan Hak Asasi Manusia Beragama (HAMBa).  Oleh karena itu, bagi orang yang memiliki ganguan seks dan psikologis atas kecenderugan LGBT harus memiliki beberapa pendekatan. Pertama, pengetahuan akan agama harus diperkuat. Sehingga lebih memaknai dan menjiwai agama tidak sekedar pengetahuan. Kedua, harus ada pelindungan dan pelayana dari kementrian sosial dalam melakukan terapi psikologis klinis. Ketiga, adanya intervensi bagi penderita LGBT dari lingkungan keluarga, bermain, pekerjaan, dan negara untuk mengembalikan pada fitrahnya sebagai laki-laki dan perempuan yang memiliki kewajiban dan hak sebagai warga Negara.