Berdiaspora dengan Teman

Berhitung waktu yang entah kapan selesai hitungan itu. Bergelut dengan aktifitas pun entah pada antifitas yang mana yang akan terhenti. Berteman pun entah sampai pada teman yang mana. Semua itu hanya Sang Maha Pencipta yang tahu. Teman, kata itulah yang kemudian sering diungkapkan oleh setiap orang ketika mengenali orang lain. Namun, perlu kiranya mengenali lebih jauh arti dari teman itu sendiri. Sehingga orang bisa berdiaspora untuk memiliki banyak teman ketimbang sedikit teman, dengan kondisi yang beragam.

Pertama, Ada orang yang menjadi teman sekedar teman, orang ini hanyalah tahu akan satu sama lainnya dan hanya sebatas kenal. Kedua, Ada pula teman yang hanya terjadi pertemanan karena kesamaan aktifitas yang membuat mereka menjadi berteman. Ketiga, ada teman yang kemudian dijadikan sebagai sahabat, sering kali sahabat merupakan teman yang ada, baik dalam keadaan suka mau pun duka. Kata sahabat sering kali diungkapkan manakala orang itu berperan, ketika teman nya dalam keadaan terpuruk.

Hal yang lebih penting dari itu semua, adalah status pertemanan seseorang tidak lah dalam kondisi statis melainkan pada kondisi dinamis. Terkait dengan persoalan hidup yang menghimpit teman itu sendiri. Sehingga dapat merubah rasa pertemanan. Teman biasa bisa menjadi sahabat, sahabat bisa menjadi teman, bahkan yang paling tidak diinginkan ialah teman menjadi lawan.

Perubahan status pertemanan itu lebih disebabkan oleh konsistensi antara apa yang dikatakan oleh teman dengan apa yang dilakukan. Sehingga menimbulkan paradok dalam berfikir. Teman yang baik ialah teman yang mana membuat tenang dan aman temannya itu sendiri. Bukan malah menimbulkan pikiran, yang membuat rasa pertemanan menjadi hambar bahkan curiga. Sikap curiga bisa memiliki makna ganda curiga diartikan sebagai sikap kehati-hatian, atau curiga yang sifat nya mengada-ngada karena salah satu teman ingin merubah status pertemanan itu sendiri.

Tingkat kepercayaan teman, bukanlah diukur dari seberapa banyak teman itu bertutur kata untuk meyakinkan temannya. Melainkan konsistensi antara bahasa verbal dengan bahasa non verbal (bahasa tubuh). Bahasa tubuh atau tindakan, yang sesungguhnya dapat jauh lebih bermakna dari apa yang dikatakan. Karena sesungguhnya setiap orang memberikan isyarat kepada orang lain, lebih banyak oleh bahasa tubuh (70%) dibandingkan dengan bahasa lisan/verbal. Maka untuk menjaga sikap pertemanan terkadang perlu adanya harmoni antara apa yang dilakukan dengan apa yang dikatakan. Bisa juga dengan menghindari perkataan yang membuat orang terstimulasi berfikir ganda seperti halnya kata: kalau pun, tidak tahu (bukan dalam arti sebenarnya), mungkin, dan tergantung. Atau perkataan yang menyakinkan: Tanggung jawab, Tuhan, apa adanya, sederhana dll.

Sikap egoisme dalam berfikir, menyebabkan kebuntuan dalam pertemanan. Sebaiknya milikilah sikap berempati dan simpati. Ada kalanya mengadapi suatu masalah dengan pikiran yang emosional, terserah diri sendiri, atau berfikir dalam kondisi orang lain. Masing-masing posisi akan menimbulkan pola pikir tersendiri, sehingga bisa melakukan proses sintesis dan diyakinkan oleh perilaku bukan lagi perkataan. Karena sesungguhnya, seribu kata bijak menjadi tidak bermakna oleh satu tindakan. Atau jikalau boleh menyitir perkataan B.J Habibie “secepat apa pun kebohongan berlari kebenaran akan melampui”. Jadi bertemanlah dengan baik, dengan cara membuat nyaman teman anda dengan keajegan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. (Tulisan ini ditujukan bagi otak yang paling dekat dengan penulis, yaitu otak penulis sendiri).