Teknik Invention Pada Pembelajaran PIPS

Teknik Invention Pada Pembelajaran PIPS

Proses pembelajaran tidaklah memiliki pengertian hanya sekedar menyampaikan informasi pada mahasiswa, dari apa yang telah dibaca sebelumnya oleh dosen. Namun, proses pembelajaran merupakan suatu rangkaian peristiwa dan proses berpikir mahasiswa atas apa yang di peroleh di kelas. Mahasiswa yang belajar ialah mahasiswa yang telah menggunakan kemampuan otaknya untuk mengkreasi atau melakukan inovasi atas konsep yang telah disampaikan oleh dosen, bukan sekedar mengingat. Dengan melakukan langkah tersebut sekaligus menggunakan kemampuan otak kiri dan otak kanan. Kemampuan otak kiri, digunakan pada saat mengingat materi dan metode PIPS. Kemampuan otak kanan, digunakan pada saat mahasiswa berimajinasi atas berbagai materi dan metode untuk membentuk suatu kreatifitas yang baru agar lebih menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran di kelas.

Keseimbangan penggunaan kemampuan otak ini sangatlah memiliki peranan penting. Kerena, materi PIPS ialah materi yang cenderung memiliki karakter tidak mudah untuk dilupakan karena mahasiswa cenderung hanya membaca atau hanya menggunakan kemampuan bahasa dan cara berpikir yang logis sistematis. Hal tersebut merupakan penggunaan otak kiri yang cenderung memiliki sifat ingatan yang pendek (short term memory). Manakala mahasiswa berimajinasi merupakan penggunaan kemampuan otak kanan yang memiliki karakter ingatan yang lama (long term memory). Oleh karena itu, setiap manusia merupakan individu yang potensial, namun sering kali terjebak pada penggunaan kemampuan otak kiri dan menyimpulkan bahwa dirinya merupakan individu pelupa.

Teknik invention merupakan suatu terobosan dari penulis sendiri agar mahasiswa mampu mengkreasikan antara materi dengan metode pembelajaran di kelas. Sehingga mahasiswa tidak terpaku pada berbagai metode yang sudah ada di dalam buku, mengingat tingkat karakter setiap kelas memiliki keberagaman yang sangat tinggi. Ole karena itu seorang gurulah yang sangat mengetahui kondisi kelas, tingkat pengetahuan siswa, dan motovasi belajar siswa. Teknik invention ini dilakukan oleh mahasiswa tidak diawal pertemuan, melainkan setelah Ujian Tengah Semester (UTS). Petimbangannya, mahasiswa haruslah di berikan pengetahuan dasar tentang cakupan materi dan berbagai metode pembelajaran yang telah terbukti efektivitasnya. Sehingga ketika mereka melakukan inovasi atas teknik pembelajaran sudah memiliki modal dasar atas prinsip-prinsip pembelajaran dan pengembangaan materi.

Waktu 13.10 untuk memulai suatu perkuliahan terasa berat baik bagi mahasiswa maupun dosen itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menghadapi waktu tersebut diperlukan persiapan dan komitmen yang matang untuk memacu adrenaline agar tetap memiliki semangat untuk melakukan proses pembelajaran. Tak jarang sering ditemukan kasus keterlambatan yang melebihi waktu toleransi (15 menit). Oleh karena itu, banyak orang yang enggan mengajar pada saat-saat tersebut begitu pun dengan mahasiswa.

Keluhan tersebut merupakan suatu keluhan yang cukup manusiawi, karena energi yang telah disiapkan selama beristirahat antara rentang waktu 4-8 jam tidur malam sudah habis terkuras pada separuh waktu di pagi hari untuk mengajar dan belajar matakuliah pada jam-jam pagi. Disisi lain kewajiban mengajar dan kontrak berlajar haruslah terpenuhi tidak bisa serta merta dibatalkan.

Tahap pertama; pada saat perkuliahan pertama dosen dan mahasiswa selain memaparkan jumlah perkuliahan dan jumlah pertemuan, dapat di tambahkan mengenai komitmen keterlambatan pada saat memulai perkuliahan. Kelas dibagi kedalam sepuluh kolompok, jumlah sepuluh kelompok tersebut kita bagi menjadi dua kelompok besar A dan B yang masing-masing memiliki 5 kelompok.

Tahap kedua; setiap kelompok yang terdapat dalam kelompok A dan B menkaji materi PIPS yang akan di sampaikan berikut dengan teknik penyampaian dan media yang digunakan. Syarat teknik yang di gunakan merupakan teknik yang belum pernah di gunakan oleh orang lain dan teknik penyampaian tersebut di berinama sesuai dengan ide dari masing-masing kelompok kecil. Hal yang harus diperhatikan ialah kesesuaian antara materi dengan teknik pembelajaran dan karakter siswa.

Tahap ketiga; setiap kelompok mahasiswa mengujicobakan materi yang akan disampaikan dengan metode yang telah mereka modifikasi di sekolah dasar. Dari tahapan ini, mahasiswa dapat mengetahui terlebih dahulu kekurangan dan keunggulan dari materi yang disampaikan dengan metode yang telah mereka tentukan sehingga dapat memperbaiki kekurangannya, sebelum di sampaikan di kelas.

Tahap keempat, mahasiswa menyampaikan materi PIPS dengan teknik pembelajaran yang menurut mereka sudah tepat. Pada tahap ini mahasiswa sudah siap untuk dilakukan penilaian oleh dosen. Penilaian pada tahap ini lebih ditekankan pada aspek; tersampaikannya materi PIPS dengan baik, kondisi kelas memiliki tingkat perhatian atas teknik dan materi yang disampaikan, teknik yang dipilih sesuai dengan materi, dan menarik bagi mahasiswa.

Pada tahap penilaian diharuskan dosen memiliki penilaian yang objektif atas hasil kreasi mahasiswa. Karena, jika dosen melakukan penilaian yang kurang objektif hal tersebut dapat berdampak pada lunturnya motivasi mahasiswa untuk melakukan berinovasi. Hal ini telah dibuktikan pada tahun pertama 2010 di kelas IPAI A dan B angkatan 2009 tanpa adanya penilaian berdampak pada motivasi yang kurang semangat dan dapat dilihat dari sebagian inovasi pembelajaran PIPS lebih pada motivasi alakadarnya sebagai pemenuhan tugas matakuliah. Kan tetapi, anggapan tersebut terpecahkan pada uji coba yang dilakukan pada kelas IPAI A dan B angkatan 2010, yang mana pada kondisi skro penilaian 2 sama antara kelompok A dan kelompok B di akhir presentasi yang kelima kedua kelompok berusaha untuk memperoleh juara grup sehingga mereka nampak serius untuk mengemas materi dan teknik yang tepat. Di akhir penilaian mahasiswa terperangkap pada ego sentris untuk memenangkan pertandingan dengan harapan yang cemas. Akhirnya dimenangkan ole kelas B dan disambut oleh teriakan yang histeris dari kelas B. Suasana tersebut merupakan suasana yang langka dapat di peroleh dari setiap proses pembelajaran manakala antara mahasiswa dan dosen sudah merasa memperoleh target dari apa yang telah direncanakan.

Pembagian jumlah 16 pertemuan pada teknik invention ini antaralain; pertemuan pertama, berorientasi pada pengenalan mata kuliah, tugas, kelompok, penilaian., pertemuan kedaua sampai dengan ketujuh digunakan untuk menyampaikan materi PIPS dan contoh metodenya., pertemuan kedelapan UTS., pertemuan kesembilan sampai dengan tiga belas digunakan untuk presentasi dan penilaian., pertemuan ke empat belas dan ke limabelas digunakan untuk mereview materi setelah UTS yang sebagaian telah di sampaikan oleh kelompok presentasi., dan pertemuan ke enambelas di gunakan untuk UAS.

Teknik invention ini diharapkan sebagai suatu khasanah dalam mewarnai proses pembelajaran Pengantar Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) yang sering dikonotasikan sebagai mata kuliah yang menjenuhkan bagi mahasiswa karena memiliki orientasi pembelajaran pada orientasi guru dan orientasi buku, kurang memiliki karakter untuk mengaktifkan mahasiswa.

Disisi lain, mahasiswa kependidikan ialah mereka yang nota bene memiliki orientasi sebagai pendidik di kemudian hari. Kebiasaan yang dilakukan oleh mahasiswa ketika terjun untuk mengajar di kelas cenderung melakukan proses imitasi atas apa yang dilakukan oleh dosen ketika mengajar di kelasnya sewaktu menjadi mahasiswa.

Teknik invention lebih menitik beratkan pada mahasiswa atau dengan kata lain active learning dan mahasiswa diberikan kebebasan untuk menggunakan kemampuan berpikirnya dalam memodifikasi metode pembelajaran yang merupakan esensi dari proses pembelajaran.