DILEMA SAMPAH MASYARAKAT

Setelah terjadinya tragedi penyerangan lapas Cebongan yang dilakukan oleh oknum anggota KOPASSUS, muncullah berbagai komentar yang beredar di media masa baik cetak maupun elektronik. Lebih ramai ketimbang mengomentari pertandingan sepakbola. Beberapa  komentar yang diutarakan, terdapat komentar-komentar yang mendukung salah satu pihak baik KOPASSUS maupun preman, ada juga yang bersikap moderat guna menetralisir permasalahan. Bagaikan gayung bersambut, peristiwa Lapas Cebongan berdampak pada penangkapan sejumlah preman yang beredar di daerah Yogyakarta dan Jakarta, sebagai pencerminan sikap tegas pihak Kepolisian RI dalam meminimalisir tindakan premanisme yang meresahkan masyarakat. Persoalan ini, tidak boleh dijadikan alasan untuk mengambil kebijakan yang membabi buta atas persoalan preman yang sedang hangat diperbincangkan. Di satu sisi, preman menjadi musuh bersama karena telah bertindak melebihi batas kewajaran yang berujung melayangnya nyawa aset bangsa atau garda terdepan kedaulatan bangsa. Akan tetapi,  pada sisi lain preman merupakan bagian dari Warga Negara Indonesia yang secara hukum memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan Warga Negara Indonesia yang lain nya tanpa kecuali, sebagai perwujudan prinsif kedudukan yang sama di muka hukum. Oleh karena itu, apakah masyarakat akan menilai preman sebagai sampah masyarakat, yang merefleksikan dari tindakan premanisme nya. Ataukah sebagai melakukan daur ulang sampah masyarakat menjadi individu yang akan memberikan manfaat besar bagi negara di kemudian hari.

Sampah masyarakat

Jika penggiringan isu yang berkembang akhir-akhir ini. Preman seolah-olah dijadikan sebagai sampah masyarakat. Hal demikian akan berdampak pada tindakan-tindakan pembenaran untuk memberantas preman, seperti hal nya yang terjadi pada masa Orde Baru yang dikenal dengan peristiwa PETRUS (penembak misterius) sampai menelan korban ribuan jiwa preman yang di buang tanpa nilai kemanusiaan. Tentu peristiwa kelam tersebut tidak mau terulang kembali di masa reformasi ini. Karena tindakan oknum aparatur negara, guna melaksanakan pemaksaan kekuasaan negara menjadi tindakan yang kurang terpuji. Bahkan ribuan hujatan dari masyarakat atas tindakan premanisme tidak akan merubah perilaku premanisme di masyarakat. Contoh yang sederhana, seseorang yang memiliki perilaku yang kurang baik urung ingin merubah tingkah lakunya yang buruk menjadi lebih baik karena terlalu melekat penilaian sebagai preman dalam suatu keluarga, dengan kata lain adanya sikap mental terlanjur di sebut preman sekalian jadi preman sungguhan. Ilustrasi tersebut mengajak kepada para pembaca untuk memberikan ruang gerak bagi para individu yang berperilaku melanggar norma menjadi individu yang bermoral.

Daur ulang sampah masyarakat

Hal ini menjadi penting karena, apa yang akan dilakukan oleh aparatur penegak hukum setelah menangkap preman?, kemudian, apakah sekedar ditangkap dan diberikan nasehat lalu dilepaskan kembali ke masyarakat?. Sementara itu, mereka harus berjuang untuk menyambung kehidupan. Berbekal ijasah sekolah seadanya tak akan mampu melahirkan tempat yang nyaman dan gaji yang mencukupi. Akankah preman kembali berkubang dalam dunia kegelapan?, ataukah masih terdapat cahaya harapan sebagai anak bangsa yang dapat berkontribusi nyata dalam kehidupan berbangsa dan berdnegara.

Berikut ini beberapat nilai positif yang terkadung dalam perilaku yang menyimpang sikap permanisme: Pertaman, memiliki kebernian tinggi. Tindakan kejahatan sudah barang tentu di benci oleh masyarakat dan melanggar norma yang berlaku. Oleh karena itu untuk melakukan tindakan menyimpang dibutuhkan kebulatan tekad yang tinggi atau desakan yang tak bisa dielakkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Kedua, berani mengambil resiko, sebelum seseorang melakukan tindakan kejatahan sudah barang tentu terdapat berbagai pertimbangan resiko atas perbuatan yang akan dilakukan. Manakala resiko terburuk terjadi, maka tak bisa dielakkan menjadi bulan-bulanan amuk masa yang akan berujung pada kehilangan nyawa.

Ketiga, solidaritas tinggi. Diantara preman memiliki tingkat solidaritas tinggi walaupun dalam tindakan yang menyimpang. Contohnya saling berbagi hasil tindakan kejahatan, kemudian peduli dengan penderitaan yang dialami teman. Oleh karena itu setiap preman pasti memiliki kelompok tersendiri, sutu kelompok bisa terbentuk tidak sekedar kesamaan orientasi akan tetapi terdapatnya nilai solidaritas diantara anggota kelompok. Keempat, berani melawan arus. Melanggar norma yang ada merupak tindakan yang berlawanan 180 derajat dengan fenomena di masyarakat namun tindakannya saja yang salah. Nilai berani melawan arus ini akan jauh memiliki dampak positif jika di salurkan untuk sikap-sikap yang akan membangun karakter bangsa, seperti: disiplin, jujur, bertanggungjawab bahkan konon katanya orang yang berlaku positif dewasa ini juga dianggap orang aneh. Kelima, sportif. Setiap preman yang menguasai suatu wilayah tidaklah diperoleh dengan cara-cara yang mudah, akan tetapi bagi preman yang ingin menguasai wilayah orang lain harus terlebih dahulu mengalahkan kelompok yang terlebih dahulu berkuasa. Maka kelompok yang kalah dalam perkelahian itu akan mengakui akan ketangguhan lawan dan menyerahkan kekuasaan pada penguasa yang baru.

Sulit rasanya menemukan seseorang yang memiliki cita-cita untuk menjadi preman. Menjadi sorang preman bisa jadi karena kebutuhan hidup yang mendesak, atau sudah merasa nyaman mendapatkan pengahsilan dengan cara yang mudah. Akan tetapi jauh yang lebih miris dari seorang preman ialah sikap masyarakat yang hanya melakukan labelisasi preman tanpa memberikan solusi. Preman jelaslah bukan tandingan KOPASSUS yang sangat terlatih. Namun, bisakah KOPASSUS bersahabat dengan preman? Tentu saja bisa. Hal tersebut bisa dilakukannya kerjasama yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka pembinaan preman yang dilakukan oleh KOPASSUS untuk melakukan reorientasi kelima nilai yang terkandung dalam tindakan kurang terpuji preman menjadi tindakan yang jauh lebih mulia dan berkontribusi nyata terhadap bangsa.

Karena pada prinsipnya, setiap manusia memiliki kebutuhan dasar untuk mengaktualisasikan diri, memperoleh pekerjaan, mendapatkan pengakuan, dan pemunuhan kebutuhan dasar. Sehingga pemikiran yang berkembang bukanlah KOPASSUS vs Preman melainkan KOPASSUS bina preman. Kalau itu terjadi pengorbanan seorang KOPASSUS dan beberapa preman di lapas Cebongan berdampak positif dan menafikkan dendam di kedua belah pihak. Karena, terlalu mahal mengorbankan profesionalisme KOPASSUS hanya sekedar memberantas preman, begitu pula terlalu hina manakala sosok mahluk yang paling sempurna hanya menyandang predikat sampah masyarakat atau preman. Kritik alternatif akan lebih membangun bangsa dibanding stigmaisasi preman. Banyak jalan menuju Indonesia emas 2045. Wallohualam bissawab.