FATAMORGANA CAPRES ARTIS

Pada saat sebelum pelaksanaan pemilihan legislatif 9 April 2014, begitu di gadang-gandangnya Roma Irama sebagai bakal calon presiden dari kalangan artis yang diusung oleh PKB. Berbeda halnya dengan Ahmad Dani yang berperan sebagai juru kampanye. Langkah strategis pun ditempuh oleh Rhoma Irama dengan mengunjungi berbagai pemuka agama di pelosok-pelosok daerah, bahkan kampanye terbuka yang melibatkan RI tidak pernah surut dari simpatisan aliran musik dangdut mau pun partai. Walhasil PKB memperoleh suara angka yang pantastis untuk daya tawar pilpres. Akan tetapi pencalonan RI sebagai bakal calon presiden sepertihalnya bayang-bayang patamorgana di antara panasnya suhu politik pilpres yang tak akan pernah tergapai. Karena PKB lebih cenderung memilih Mahfud MD untuk diusung sebagai calon wapres bersama Joko Widodo. Fenomena ini merupakan tamparan keras bagi kalangan artis tertutama RI, sekaligus membalikkan orientasi politik Roma Irama untuk tidak mendukung koalisi tersebut.

Beberapa hal mengenai posisi RI hanya dipandang sebagai: Pertama, pendulang suara pada saat-saat kampanye terutama bagi pemilih pemula yang belum memiliki pilihan tetap baik bagi partai maupun kader partai yang terlibat dalam kursi legislatif ataupun presiden. Kedua, menggiring para penikmat aliran musik dangdut untuk memilih partai PKB. Ketiga, setelah prosentasi meningkat dalam perolehan suara pada pileg posisi RI tidak lagi menjadi signifikan. Keempat, setelah tahap pileg selesai seolah-olah yang paling menentukan akan pemenangan pilpres adalah kalangan DPP PKB. Kelima, sikap politik Roma Irama yang tidak mendukung koalisi tersebut dianggap sebagai riak air dalam segelas kopi, suatu fenomena yang terbalik ketika Roma Irama pada saat PKB belum memperoleh suara yang meningkatkan posisi tawar bagi partai lain.

Indikasi diatas jelas akan berdampak pada perolehan suara pilpres mendatang jikalau Joko Widodo berpasangan dengan Mahfud MD karena tidak terakomodirnya suara Satria Bergitar. Pertama, penurunan suara akan nampak berkurang bagi wilayah Jawa Barat yang padat penduduk karena tokoh Roma Irama merupakan seniman plus pemuka agama yang dibesarkan dari Kota Tasik  Malaya. Kedua, tumbuhnya sikap solidaritas profesi di kalangan selebritis terkait dengan fenomena politik yang menimpa Roma Irama terutama para artis dangdut. Ketiga, masyarakat akan menilai bahwa Rhoma Irama hanya dijadikan pekerja politik bukan orang yang menentukan arah kepentingan politik partai, sehingga akan menimbulkan simpati masyarakat sebagai orang yang termarjinalkan.

Berkaca dari fenomena tersebut maka dapat di tarik empat pelajaran penting. Pertama, perkembangan ideologi partai politik di Indonesia masih memiliki warna yang mudah pudar jika dihadapkan pada politik praktis. Karena menitikberatkan pada pemenangan pemilu bukan pada integritas ideologi partai itu sendiri. Kedua, pelajaran yang berharga berikutnya bagi kalangan artis itu sendiri untuk lebih mempertegas posisi daya tawar pada partai politik agar orientasi politik partai tidak berubah di tengah jalan, karena tersandung pada atmosfer prosentase perebutan kekuasaan. Ketiga, hal ini lebih menegaskan bahwa dalam sistem kepartaian di Indonesia belum pernah terjadi istilah oposisi dan koalisi permanen. Mengingat PDI-P merupakan partai yang beroposisi pada masa kekuasaan SBY-Budianono dan PKB Berkoalisi dengan Demokrat. Sekarang PKB berkoalisi dengan PDI-P dan Demokrat menunggu agar bisa berkoalisi atau oposisi. Keempat, fenomena ini secara langsung mengajarkan pada masyarakat bahwa ideologi itu tidak lebih penting dari kedudukan kekuasaan, dan menumbuhkan sikap mental pragmatis bagi politisi-politisi muda yang akan berpolitik praktis di kemudian hari.