PEMILU MURAH DENGAN DUA PASANG CALON PRESIDEN

Belajar dari pilpres pada tahun 2004 yang berlangsung dua putaran karenan memiliki lima pasang kandidat (Wiranto-Salahudin Wahid, Megawati-Hasyim Muzadi, Amien Rais-Siswono, SBY-JK, Hamzah Haz-Agum Gumelar) dan 2009 yang berlangsung satu putaran karena memiliki tiga pasang kandidat (Megawati-Prabowo, SBY-Budiono, JK-Wiranto), hal tersebut jelas memiliki konsekuensi logis terhadap moril maupun materil lebih besar manakala pilres berbajal dua putaran, baik bagi pemerintah maupun masyarakat. Disisi lain, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah terkait dengan program pembangunan nasional. Komisi Pemilihan Umum telah menetapkan jadwal pencalonan presiden pada tanggal 18 Mei sampai dengan 20 Mei 2014 dan masing-masing pasangan telah mendaftarkan diri. Pasangan calon presiden yang telah terbentuk mengerucut pada nama Prabowo Subianto dari partai Gerindra bersama Hatta Rajasa yang diusung PAN, PPP, PKS dan Golkar dengan totoal prosentasi 49,497%. Kemudian pasangan Joko Widodo bersama Jusuf Kalla yang berbasis dukungan partai PDIP, NASDEM, PKB, HANURA dengan total dukungan 39.97%. Kedua pasang capres dan cawaspres melakukan proses administrasi pendaftaran ke KPU. Walaupun diatas kertas pasangan Prabowo-Hatta yang lebih unggul, akan tetapi perlu pertimbangan yang matang atas dinamika politik yang cukup alot untuk menentukan pasangan masing-masing.

Dinamika Politik

Pertama, masih mempertimbangkan cawapres pendamping Joko Widodo sebagai dasar pertimbangan bagi partai politik lain untuk melakukan koalisi ataukah oposisi, walaupun pada dasarnya sudah terdapat PKB, NASDEM dan yang baru-baru merapat HANURA. Sementara yang terjadi pada partai golkar nampak malu-malu mau, karena pada akhirnya Jokowi lebih memilih JK ketimbang Abrahan Samad yang nota bene pimpinan KPK.

Kedua, berkembangnya poros tengah masih menjadi dasar pertimbangan, yakni bergabungnya partai-partai berbasis agama. Hal ini pun menjadi luluh lantah, karena PKB sudah menisbikan partainya untuk bergabung dengan PDI-P. Begitu pula dengan PPP dan PAN yang bergabung dengan partai Gerinda. PKS menjadi bola liar menunggu detik-detik peluang pemenang pemilu yang lebih terukur sehingga memberikan dukungan partai politik kepada Partai Gerindta menjelang masa-masa akhir pencalonan presiden dan wapres kepada KPU.

Ketiga, perkembangan di berberapa kampus yang berada di Jawa Barat munculnya dinamika kepemimpinan sunda. Karena disadari selama ini masyarakat Sunda yang memiliki daya tawar penduduk terbesar kedua di Indonesia tidak pernah mendapatkan peluang untuk menjadi orang nomor pertama di Indonesia. Karena masyarakat terjebak pada lamaran kuno Joyo Boyo yang tidak menyebut nama orang selain memiliki huruf vokal “O”. Kepemimpinan Sunda dalam wacana merupakan sesuatu yang lumrah, akan tetapi hal ini menjadi terlalu prematur untuk dibicarakan karena dinamika kepemimpinan sunda lahir di penghujung acara pesta demokrasi. Maka tidak banyak hal yang bisa dipersiapkan untuk pemenangan pemilu.

Keempat, masih berhitung apakah para pemilih pada tanggal 9 Juli yang akan datang lebih di pengaruhi oleh partai politik ataukah figur dari pasangannnya presiden atau wakil presiden. Dua pilpres yang berlangsung belakangan ini cukup memberikan ilustrasi yang jelas. Bagaimana sosok SBY bisa memenangkan hati pemilih yang berujung pada pencoblosan dirinya sebagai Presiden, hal ini membuktikan bahwa mesin pemenangan pemilu yang berada pada partai politik lebih optimal manakala didukung oleh figur politik yang sesuai dengan keinginan masyarakat.

Mengapa harus dua Pasang.

Pertama, masyarakat tidak dibingungkan dengan pasangan presiden dan wakil presiden. Karena pada pileg kemaren, cukup melelahkan para pemilih. Hal itu dapat dibuktikan banyaknya masyarakat yang tidak mempertimbangkan dengan baik siapa orang yang hendak di coblos pada bilik suara. Walhasil, banyak kandidat anggota legislatif yang terpilih di luar prediksi pemilih itu sendiri, atau orang baru sadar siapa yang dipilih pada waktu di bilik suara setelah mendapatkan pengumuman resmi dari KPU mengenai penetapan anggota legislatif.

Kedua, efisiensi biaya penyelenggaraan pemilu. Anggaran biaya Komisi Pemilihan Umum untuk pelaksanaan pilres yang hanya dua pasang calon setidaknya akan berhemat dalam hal; surat suara yang tidak memerlukan lebar kertas yang tidak terlalu besar, dan sosialisasi pasangan presiden akan lebih tepat sasaran ketimbang dengan banyak pasangan calon presiden.

Ketiga, hanya satu kali putaran. Dengan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden dapat mempermudah perolehan minimum suara untuk menjadi orang nomor satu di republik ini, dengan mengantongi suara minimal 50 % plus satu. Jika lebih dari dua pasang calon presiden ha ini membuka peluang pilpres dua putaran, karena tingkat golput pada pileg lebih dari anggka 30 persen. Pada hakikatnya, banyak sedikitnya pemilih pada pasangan presiden merupakan bentuk legitimasi kekuasaan agar lebih stabil dalam masa periode kepemimpinan.

Keempat, pasangan presiden berbasis kinerja. Para elit politik pada masa pileg lebih terfokus pada pemenangan partainya untuk memperoleh kursi di legislatif lebih banyak. Sehingga tak heran kegiatan para pemangku jabatan teralihkan dari tugas pokok sebagai abdi negara menjadi sedikit terbengkalai dengan hiruk pikuk kegiatan polik. Kebisaan ini harus sedikit-demi sedikit dihindari dan beralih pada orientasi kerja kenegarawanan untuk kepentingan bangsa dan negara. Karena bangsa Indonesia sekarang ini dihadapkan pada persaingan bebas dengan bangsa-bangsa lain di tahun 2015 mendatang. Seingga harus mempertimbangkan banyak hal darik pada terjebak pada proses perebutan kekuasaan semata.

Pelestarian tradisi politik dengan dua pasang calon presiden membutuhkan kesadaran dan dukungan dari pemangku kekuasaan pada masing-masing partai politik di pemilu mendatang. Hal tersebut didasarkan pada kepentingan bangsa dan negara, ketimbang menang atau kalah dalam pilpres. Wallohualam bissawab.

Sumber Gambar: www.jurnal3.com

Pencarian kata kunci yang masuk:jokowi presiden lucufoto lucu jokowi vs prabowogambar lucu jokowi vs prabowoprabowo vs jokowi lucujokowi vs prabowo lucuprabowo lucugambar lucu prabowo vs jokowi