Reaktualiasasi Nilai Ramadhan 66 Tahun Kemerdekaan

Momentum Ramadhan pada saat ini sangatlah memiliki makna yang berbeda bagi pemaknaan sebagai suatu bangsa yang merdeka. Hal tersebut lebih dikarenakan bulan ramadhan yang sekarang sama halnya dengan ramadhan 66 tahun yang lalu pada saat proses kemerdekaan. Tanggal 17 ramadhan perhitungan kelender Hijriah sama halnya dengan tanggal 17 agustus pada perhitungan kelender Masehi. Walaupun terdapat sedikit perbedaan, yang mana ramadhan pada saat hari kemerdekaan jatuh pada hari Jum’at sedangkan ramadhan sekarang ini jatuh pada hari Rabu. Dari keistimewaan hari, lebih istimewa pada saat kemerdekaan karena jatuh pada bintangnya hari.

Peristiwa yang tak boleh dilupakan pada waktu Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh sekutu, pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 para pemuda segera menculik Ir. Soekarno ke Rengas Dengklok dan memaksa Ir. Sukarno untuk segera memerdekaan diri Indonesia pada tanggal 14 Agustus. Namun, Ir. Soekarno tidak mengindahkan keinginan tersebut, walaupun dalam keadaan tertekan oleh para pemuda pada saat itu. Ir. Soekarno memiliki insting politik tersediri dengan memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Angka 17 bagi umat Islam sangatlah memiliki nilai tersendiri yakni jumlah sholat wajib yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim dalam sehari dan bertepatan dengan malam nujulul quran (turunnya ayat suci al-quran).

Bulan ramadhan pada saat 66 tahun yang lalu penuh dengan ibadah ritual dan ibadah sosial. Pertama, Ibadah ritual ditunjukkan dengan kepatuhan para pejuang bangsa untuk tetap melaksanakan Ibadah puasa di bulan Ramadhan walaupun pada saat itu dalam kondisi krisis menghadapi kemerdekaan dibawah tekanan kolonilis Jepang. Berjuang dalam kondisi lapar bukanlah suatu yang mudah untuk ditalukkan. Kedua, ibadah sosial ditunjukkan dengan memperjuangkan nasib rakyat Indonesia agar terlepas dari belenggu penjajahan dan dapat membangun dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Akan tetapi kalau dibandingkan dengan bulan Ramadhan pada saat sekarang ini mengalami perbedaan antara ibadah ritual dan ibadah sosial; Pertama, Ibadah ritual pada saat sekarang ini bangsa Indonesia mengalami peningkatan karena kondisi bangsa yang jauh lebih baik dan setiap orang memiliki waktu yang leluasa untuk beribadah dan memperlajari ilmu keagamaan dengan mendalam. Kedua, ibadah sosial pada saat sekarang ini mengalami kemunduran yang ditandai dengan; setiap orang lebih mementingkan keuntungan bisnis bagi dirinya sendiri, hal itu ditunjukkan dengan kenaikan harga di bulan ramadhan selalu meningkat berbanding terbalik dengan nilai ramadhan bahwa setiap orang diajurkan untuk banyak memberikan sedekah kepada orang lain., Tingkat produktifitas dalam bekerja cenderung mengalami kemunduran dengan ditandai dengan pengurangan jam bekerja secara sistematis., Elit politik lebih cenderung memperjuangkan kepentingan diri dan kelompoknya dibandingkan untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia.

Kondisi seperti diatas haruslah dilakukan perubahan secara terencana dan berkelanjutan agar nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para pendiri negara dapat tetap lestari dan berkembanga di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai yang dapat diteladani, manakala Ir. Soekarno mengambil keputusan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan kemampuan untuk mengelaborasi antara kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual: kecerdasan spiritual karena angka 17 syarat dengan nilai-nilai religius. Kecerdasan emosional karena Ir. Soekarno tidak mudah terpengaruh oleh kondisi pada saat itu sehingga mengambil keputusan dengan keadaan pengendalian emosi yang stabil. Kecerdasan sosial karena dengan memerdekakan diri sebagai suatu bangsa akan memperkecil ruang gerak penjajah Jepang, memperluas ruang gerak pribumi dan memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi dan kelompok. Kecerdasan intelektual yang mana Ir. Soekarno mampu melakukan langkah-langkah strategis dan mampu merumuskan teks proklamasi yang sangat bernilai dalam kondisi serba terbatas.

Akhirnya kalaulah boleh menyitir pesan ungkapan Prof. Idrus Affandi di akhir ceramah remadhannya berpesan bahwa “kalau ingin belajar aktualisasi nilai ke Islaman pergilah ke negeri Jepang dan kalaulah ingin belajar ilmu Islam datanglah ke Indonesia”, hal tersebut menginsyaratkan bahwa nilai-nilai yang dipelajarai selama ini kurang memiliki penanaman nilai terhadap perilaku yang membumi, sehingga kurang dirasakan kebermaknaan sosial bagi masyarakat. Penanaman karakter kebangsaan dan niai keagamaan yang ditunjukkan oleh para pendiri negara, jelaslah membutuhkan figur teladan sebagai model bagi para generasi muda. Model tersebut tidaklah lain dari pada para elit politik yang sering mempertontonkan perilaku politik di media masa, sebagai bentuk referensi perilaku yang baik bagi penerus bangsa. Karena perilaku apapun yang dipertontonkan oleh elit politik setidaknya akan menjadi wacana nasional dan secara tidak langsung memberikan pengaruh perilaku terhadap para penikmat informasi media masa tersebut baik nilai perilaku yang positif maupun negatif.