Category Archives: CERPEN

SENI ANGKLUNG WAHANA MEWUJUDKAN VISI

Kuliah perdana di FPIPS UPI menjadikan suatu tradisi yang positif dengan cara mengundang tokoh nasional. Pada kesempatan kali ini, mengundang Bapak Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Ke-6 Republik Indonesia. Tema yang diusung pada kesempatan ini mengenai pendidikan kedamaian. Selesainya kuliah yang disampaikan oleh Bapak SBY, disambut dengan permainan angklung dengan kolaborasi pemain anatara dosen, karyawan dan mahasiswa FPIPS UPI. Permainan angklung tidak sekedar bermain, melainkan memiliki makna yang mendalam dibalik alunan nada lagu. Pertama Konduktor, bisa diartikan sebagai pemimpin pagelaran, yang memberikan isyarat dengan gerakan tubuh mengenai nada yang harus dimainkan. Bisa diartikan sebagai seorang pemimpin yang memberikan kebijakan apa yang diberikan dan yang harus dilaksanakan. Kedua pemain dengan nada: do, re, mi, fa, so, la, si, do. Nada yang dimainkan lebih kepada peran perorangan sesuai dengan tangga nada yang terdapat pada angklung masing-masing. Hal ini, bisa diartikan bahwa setiap pemimpin memberikan keputusan yang harus dimainkan oleh keahlian yang dimiliki oleh setiap orang agar hasil dari pekerjaan menjadi optimal tidak sekedar selesai suatu pekerjaan. Ketiga pemain dengan memainkan nada secara berkelompok. Peran ini dapat diartikan bahwa kebijakan yang diberikan oleh pemimpin, terdapat pekerjaan yang bisa menghasilkan hasil yang baik manakala dikerjakan dengan cara berkelompok. Keempat, Pemimpin memberikan hormat diawal pementasan dan memberikan hormat secara bersama-sama ketika di akhir kegiatan. Mengartikan bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh pemimpin bersama dengan tim diawali dengan nilai penghargaan kepada orang lain yang memberikan kesempatan atas pekerjaan atau kegiatan yang akan dilaksanakan dan yang telah dilaksanakan. Walhasil kegiatan pementasan seni angklung atau dalam hal ini visi yang dilaksanakan oleh seorang pemimpin dan tim dapat berjalan dengan baik dan mendapatkan apresiasi yang baik pula.

Idealisme Pencari Rente

Ayat suci dan hadist dikhutbahkan di mimbar religi

Kode etik diutarakan di mimbar akademik

Karya ilmiah dituntut sebagai ciri akademisi

Makna kegiatan dituntut sebagai ciri esensi

 

Muka ramah dipasang padahal semu

Jabatan tangan hanya sekedar kiasan

Sapaan dibuat agar tak terasa hambar

Itu semua hanya kedok recehan semata